Not Found

The requested URL /txt_s/page004506index.txt was not found on this server.

Additionally, a 404 Not Found error was encountered while trying to use an ErrorDocument to handle the request.


Warning: session_start(): Cannot send session cookie - headers already sent by (output started at /home/literasi/public_html/index.php:4) in /home/literasi/public_html/wp-content/plugins/accesspress-anonymous-post-pro/accesspress-anonymous-post-pro.php on line 276

Warning: session_start(): Cannot send session cache limiter - headers already sent (output started at /home/literasi/public_html/index.php:4) in /home/literasi/public_html/wp-content/plugins/accesspress-anonymous-post-pro/accesspress-anonymous-post-pro.php on line 276
Hidup Ini Bukan Pasar Malam – Komite Literasi

“Dan di dunia ini, manusia bukan berduyun-duyun lahir di dunia dan berduyun-duyun pula kembali pulang, seperti dunia pasar malam.”

“Seorang-seorang mereka datang. Seorang-seorang mereka pergi. Dan yang belum pergi dengan cemas-cemas menunggu saat nyawanya entah ke mana,” demikian kata Pramoedya Ananta Toer dalam Novelnya, Bukan Pasar Malam.

Saya mencoba menulis sedikit dari hasil membaca buku karya Pramoedya Ananta Toer itu. Buku yang saya dapatkan dari salah satu senior yang datang dari Medan menjalankan tugas liputan.

***

Pram menceritakan kisah tentang anak revolusi yang pulang kampung untuk menjenguk ayahnya yang jatuh sakit. Sang ayah yang dulunya berprofesi sebagai guru serta tentara muda revolusi idealis, kini terbaring lemah dan tak berdaya di rumah sakit. Ia menderita penyakit TBC. Badannya kian hari kian kurus. Padahal, badan itu dulunya tangguh, perkasa, mampu menerjang medan perang.

Anak itu pun terus dirundung kesedian. Bersama adik-adiknnya, mereka selalu menitikkan air mata tiap kali melihat kondisi kesehatan ayah terus menurun dari hari ke hari. Mereka pun takut. Bila ayah yang dicintainya, yang telah membesarkan mereka, pergi untuk selama-lamanya.

Selama dua bulan dirawat di rumah sakit, tak ada pertanda ayahnya membaik. Malah sebaliknya, kesehatannya kian menurun. Badannya kian kurus. Mereka pun memutuskan untuk membawa pulang sang Ayah. Hingga akhirnya, sang ayah menghembuskan napas terakhir.

“Mas, Mas. Bapak sudah-sudah-sudah-sudah tak ada,”

Anaknya menitikkan air mata. Begitupun dengan adik-adiknya. Ayahnya telah pergi. Belum setahun kemerdekaan tergapai, namun sang ayah sudah tiada. Padahal ia giat memperjuangkan tercapainya kemerdekaan bangsanya selama tiga puluh tahun. Sang ayah telah terbaring di tempat peristirahatan terakhir, kuburan.

Ayahnya gugur di lapangan politik. Ia jatuh sakit lantaran kecewa dengan keadaan yang terjadi sesudah kemerdekaan. Para jenderal yang dulunya bergerilnya memperjuangkan kemerdekaan, malah saling berebut kursi dan jabatan pasca kemerdekaan. Ayahnya mememdam kekecewaannya yang berakibat sebuah penyakit,TBC. Penyakit itu akhirnya merenggut nyawanya.

“Kalau kita sudah mencintai manusia, dan orang itu pun mencintai kita, mengapa kemudia kita harus bercerai-berai dalam maut. Mengapa orang tak ramai-ramai lahir dan ramai-ramai pula mati? Aku ingin dunia ini seperti pasar malam,” Pramoedya Ananta Toer. (*)

Penulis: Ari Maryadi

0 Comments

Leave a reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*

Kontak Kami

We're not around right now. But you can send us an email and we'll get back to you, asap.

Sending

© Copyright 2018 Komite Literasi PPG - Kemenristekdikti

Log in with your credentials

or    

Forgot your details?

Create Account